Kebahagiaan Bukanlah Sebuah Benda Yang Bisa Dibeli


Mengingat zaman yang berkembang begitu pesat, secara tidak sadar keadaan ini menuntut manusia untuk melakukan sesuatu secara tergesa-gesa bahkan rela tergila-gila kerja karena terobsesi pada “kesuksesan”. Tentu, tak sedikit yang berujung pada depresi bahkan melakukan bunuh diri. Tragisnya, orang semacam ini kehilangan apa yang disebut kebahagiaan.

Adakalanya kita mencermati kisah Socrates berikut ini. Seorang filsuf Yunani yang terkenal akan kecintaannya kepada pasar. Ia selalu pergi ke pasar jika jadwalnya memungkinkan. Sering kali, ia mengubah jadwalnya supaya bisa datang ke sana. Kendati demikian, ia jarang sekali membeli sesuatu. Salah seorang muridnya bertanya: Mengapa anda begitu sering pergi ke pasar dan berbelanja begitu sedikit?” Socrates tersenyum dan menjawab, “ Aku hanya suka melihat segala macam barang-barang bagus yang tak kubutuhkan itu”

Jika dicermati lebih lanjut, kita bisa menangkap bahwasannya kebahagiaan adalah benda yang tidak bisa dibeli. Andaikata bisa, maka seberapa banyak benda yang akan kita beli untuk mendatangkan kebahagiaan itu sendiri? Seberapa besar uang yang kita keluarkan untuk membeli benda yang bernama kebahagiaan tersebut? Sedangkan manusia memiliki sifat yang selalu merasa kurang puas. Selalu melihat apa yang belum dimiliki bukan yang telah ia miliki. Yang ada dalam pikiran manusia cenderung mengarah terhadap kebahagiaan yang bisa dilihat dari segi nominal. Dari segi materi. Sehingga kebahagiaan yang dirasakan hanya bersifat sesaat.

Dengan demikian, kita harus menyadari bahwa kebahagiaan sejatinya tidak bisa diproduksi atau dibuat di suatu pabrik. Kebahagiaan itu sudah ada sejak semula. Sudah menyatu dengan diri manusia itu sendiri. Oleh karenanya, kebahagiaan semacam ini disebut dengan kebahagiaan batin. Sebuah kebahagiaan yang pasti dimiliki setiap orang dengan syarat ia mampu bersyukur atas segala karunia Tuhan.

Dengan bersyukur, kita akan merasakan betapa banyak nikmat yang selama ini kita peroleh. Bahkan, Tuhan sendiri sudah berulangkali mengingatkan manusia agar senantiasa bersyukur. Jika Anda tak percaya, tengoklah surat Ar-Rahman. Pada surat tersebut, Allah sudah memperingati manusia sampai sebanyak tiga puluh satu kali dengan lafadz “Fabiayyi Aa Laa i Robbikuma Tukaddzibaan” Maka, nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?

Lihatlah! Ayat yang memiliki susunan kata yang sama tersebut, tidak berdiri sendiri. Tetapi diulang puluhan kali sebagai bentuk peringatan sekaligus teguran Tuhan kepada manusia. Oleh karena itu, melihat manusia cenderung kepada kufur daripada syukurnya, hendaknya kita lebih memaknai janji Allah yang termaktub dalam surat Ibrahim ayat 7: “Lain Syakartum Faaziidannakum wa Lain Kafartum Inna ‘Adzabi La Syadiid”. Barang siapa yang bersyukur, maka akan aku tambah nikmatnya dan barang siapa yang mengingkari, sesungguhnya adzabku sangatlah pedih. Wallahu A’lam Bisshowab.

What's Your Reaction?

Keren Keren
2
Keren
Terinspirasi Terinspirasi
3
Terinspirasi
Terhibur Terhibur
1
Terhibur
Unik Unik
0
Unik
Suka Suka
0
Suka
Biasa aja Biasa aja
0
Biasa aja
Angry Angry
0
Angry
hate hate
0
hate
Ardani HK

Sedang berkeinginan menjadi penggiat literasi

More From: Motivasi

DON'T MISS