Kesalahan Berbahasa: Rubah atau Ubah


Berbahasa Indonesia yang baik dan benar merupakan sebuah syarat yang sangat penting dalam upaya mencapai kesuksesan dalam berkomunikasi. Komunikasi yang baik tentunya akan mempermudah tercapainya maksud atau keinginan yang terkandung di dalamnya.

Kembali membahas tentang berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Sering kali kita melakukan kesalahan dalam berbahasa. Hal demikian sebenarnya adalah hal yang wajar, bahkan seorang bahasawan pun pernah salah dalam berbahasa. Akan tetapi, jika kesalahan-kesalahan tersebut tetap dilanjutkan, didiamkan dan tidak dibenarkan, rasanya kita telah membuat titik kekacauan dalam berbahasa itu sendiri. Padahal, dari bahasa akan tercermin karakter penuturnya. Jika bahasa yang digunakan baik, tentunya bias diperkirakan karakter penggunanya baik. Jika sebaliknya? Bisa kita bayangkan sendirilah, semacam fenomena alay dan kekacauan karakter penggunanya secara psikis.

Kesalahan dalam penggunaan bahasa atau berbahasa yang ingin saya singgung dalam artikel ini sebenarnya hanya satu kata. Akan tetapi, satu kata ini begitu penting dan sangat sering kita gunakan dalam berbicara ataupun menulis sehari-hari. Kata ini muncul dalam setiap perbincangan aktor dalam sinetron, ceramah dan pidato para tokoh, bahkan para elit politik. Kata ini sayang salah digunakan dan salah dimaknakan. Kata ini ialah kata “ubah” yang sering salah penggunaan dan akhirnya menjadi “rubah”.

RUBAH - UBAH

Apabila kita mengamatinya dari sudut pandang baku dan tidak baku, penggunaan kata “rubah” akan dibenarkan, sebab secara konvensional bahasa ini telah umum dan dipahami sama dengan makna kata “ubah”. Akan tetapi, berdasarkan sudut pandang ideal, maka kata ini telah mengalami banyak penyimpangan yang sangat miris. Membiarkan fenomena ini terus berlaku maka sama halnya kita ikhlas membodohkan diri dengan tidak menggunakan pengetahuan yang benar.

Maka dari itu, penting kiranya kita memulai berpihak kepada kebenaran dari titik yang paling sederhana terlebih dahulu, yaitu bahasa. Bahasa yang mengimplikasikan sikap dan karakter ini tentunya akan berpengaruh pada kehidupan kita, jika kita juga menggunakannya dengan baik dan benar. Sebab segala hal yang ada dalam kehidupan kita, dimulai dari bahasa. Tanpa bahasa kita tidak dapat memaknai hidup ini sama sekali.

Kembali ke pembahasan rubah vs. ubah. Mari kita mulai membahas yang salah terlebih dahulu, yakni kata rubah. Dalam kesaharian kita, sering sekali kita mendengar kata rubah diucapkan dengan maksud mewakili makna yang sama dengan kata “ubah”. Misal, “Mari kita rubah gaya hidup kita!” atau “merubah kebiasaan hidup yang buruk menjadi yang lebih baik itu susah-susah gampang” Kesalahan penggunaan kata ini dapat kita analisis dari tiga sudut pandang. Pertama dari sudut pandang lekiskologi atau makna secara kamus: rubah adala seekor hewan, yang bentuknya mirip kucing tapi bukan kucing. Jelas sekali berbeda dengan maksud yang diinginkan oleh kalimat contoh di atas. Bagaimana bisa kata ini dibenarkan?

Kedua, kita bisa menganalisis kesalahan dalam penggunaan kata “rubah” dari sudut pandang morfologis. Dalam contoh kalimat yang kedua, kata merubah digunakan untuk mewakil makna yang sama dengan kata “ubah”. Jika ini memang dari kata ubah, kata itu ketika berimbuhan akan menjadi mengubah (meng-ubah). Dalam bahasa Indonesia, ada istilah imbuhan, bentuknya ialah me-, ber-, mem-, meng- dan meny-. Jelas sekali, tidak ada imbuhan mer-. Betapa kita sebagai orang Indonesia perlu kembali meneliti itu. Kekacauan berbahasa menggambarkan kekacauan pikiran penuturnya.

Ketiga, kita dapat menganalisis kesalahan dari sudut pandang morfo-semantiknya. Ini masih berkaitan erat dengan imbuhan yang kita bahas di paragraf sebelumnya. Kata mengubah, kata dasarnya adalah ubah, kemudia diberi imbuhan me-, imbuhannya melebur menjadi meng-ubah. Makna yang dihasilkan ketika sebuah kata dasar diberi imbuhan tersebut adalah membuat jadi berubah. Sementara ketika yang kita gunakan adalah kata merubah, kata dasarnya adalah rubah (seekor hewan). Kata rubah dimasuki imbuhan me-rubah, artinya akan menjadi membuat jadi rubah. Luar biasa bukan?

Banyak orang percaya bahwa perkataan adalah doa. Sekarang terserah Anda, ingin menjadi RUBAH atau UBAH mulai sekarang!

What's Your Reaction?

Keren Keren
0
Keren
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Unik Unik
0
Unik
Suka Suka
0
Suka
Biasa aja Biasa aja
0
Biasa aja
Angry Angry
0
Angry
hate hate
0
hate

One Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

  1. inspiratif sekali artikel Anda. terkadang kita tidak menyadari hal seperti itu. padahal imbuhan merupakan pelajaran dasar saat kita belajar bahasa Indonesia di Sekolah dulu.

You may also like

More From: Edukasi

DON'T MISS