Mengarungi Kebijaksanaan Hijrah


Mengarungi Kebijaksanaan Hijrah – Selain tahun baru Masehi yang bertepatan pada tanggal 1 Januari, kita mengenal juga tahun baru Islam. Penetapan 1 Muharram sebagai tahun baru Islam, tak serta merta lahir dari rahim kesepakatan saja. Di dalamnya, terdapat sebuah sejarah yang menjadi cikal bakal lahirnya kalender Hijriah. Di bawah kepemimpinan Umar bin Khattab inilah, pada akhirnya umat muslim memiliki kalender sendiri. Dan atas usulan Ali bin Abi Thalib pula, Muharram ditetapkan sebagai awal tahun.

Pemilihan bulan Muharram yang diusulkan menantu nabi ini tidak lain karena pada bulan inilah, Rasulullah meninggalkan kota Makkah menuju Yastrib (Madinah). Yang pada akhirnya, perpindahan ini dinamai dengan hijrahnya nabi Muhammad SAW.

Jika dicermati lebih lanjut, hijrah tidak hanya diartikan dari perpindahan dari satu tempat menuju tempat yang lain, atau, berpindah dari buruk menjadi baik. Nyatanya, hijrah memiliki hakekat yang sangat mendalam. Apalagi, hijrah tidak hanya terjadi pada nabi Muhammad saja melainkan juga terjadi pada nabi sebelumnya. Katakanlah nabi Ibrahim yang hijrah menuju Makkah sambil membawa istrinya, Siti Hajar dan putranya, Ismail.

Padahal, Makkah di masa itu hanyalah padang tandus yang tidak memiliki harapan hidup. Tentu mustahil berpindah menuju tempat yang nyatanya jauh lebih buruk dari sebelumnya. Sayangnya, terminologi hijrah tidak berhenti sampai di sini. Hijrah tidak mengarah kepada pindahnya seseorang secara fisik, melainkan juga secara jiwa atau yang disebut penguatan mental.

Meski terasa sulit, nabi Ibrahim tetap membawa keluarga kecilnya menuju Makkah sebagai bentuk ketaatan kepada Sang Pencipta. Rupanya, di sinilah letak peningkatan kejiwaan Ibrahim teruji. Kelapangannya meninggalkan istri dan anaknya seorang diri di tengah gurun gersang, adalah tindakan yang membuatnya semakin bijak mengarungi hidup.

Pun begitu dengan nabi Muhammad. Kendati di Makkah beliau dimusuhi oleh pemuka Quraisy, namun meninggalkan tanah kelahiran sendiri, pasti amat sulit bagi baginda nabi. Apalagi, makam keluarga beliau berada di kota ini. Namun, lagi-lagi karena sudah diperintahkan oleh Allah, nabi pun hijrah menuju Madinah. Serupa dengan nabi Ibrahim, saat ini pula, Rasulullah mengalami penguatan mental.

Mental, pada hakekatnya dimiliki setiap pribadi manusia. Tetapi, mental setiap manusia tidak sama. Mental seseorang terbentuk melalui sebuah perjalanan panjang. Ia butuh proses dan tidak instan. Jika ingin mengenal rumus mental, mari simak rumus perkalian dalam matematika.

Di dalam pelajaran ini, (-) minus dikali (-) minus hasilnya positif. Pun begitu sebaliknya, (+) plus dikali (+) plus hasilnya positif. Berbeda dengan (-) minus dikalikan (+) plus, maka hasilnya negatif. Atau (+) plus dikalikan (-) minus, hasilnya negatif. Jika (+) plus diartikan sebagai ‘ya’ dan (-) minus diartikan negatif, maka akan muncul nalar bahwa fenomena ini sudah merambat pada masyarakat.

Artinya, jika kita benar dan berkata benar, berarti kita memang benar. Atau, saat kita salah dan berkata salah, maka kita benar karena mengakui kesalahan. Berbeda jika kita salah tetapi menyatakan diri sebagai pihak yang benar, ini keliru. Atau, sesuatu yang sudah benar tetapi kita mengatakannya secara salah, hasilnya salah. Parahnya, di dalam bersinergi dengan orang lain, kita acapkali melakukan sesuatu yang salah tetapi disampaikan sebagai kebenaran.

Hal ini sudah tercermin di dalam bermedia sosial. Puluhan bahkan ratusan berita hoax sudah menyebar berbagai kalangan. Apalagi saat bersinggungan dengan politik, akan lebih rumit. Saling membenci bahkan adu lapor polisi sebagai tindakan pencemaran nama baik, sudah menjadi pemandangan sehari-hari. Butuh suatu sistem guna menanggulangi hal ini. Salah satunya dengan penguatan mental pribadi.

Tak usah muluk-muluk. Cukup merenungi hakekat hijrah yang sebenarnya, maka akan ditemukan benang merah dengan penguatan mental. Dimulai dari diri sendiri, mental akan berkembang seiring proses. Yang terpenting adalah niat pribadi. Dan niat itu ada di dalam hati.

Imam Ghazali telah memaparkan, bahwa tubuh manusia ibarat sebuah kerajaan. Dimana yang bertindak sebagai raja adalah hati bukan akal. Sebab akal selalu mencari jalan pembenar atas perbuatan kita. Sedangkan hati, ia lebih bijak dalam memandang suatu peristiwa. Jadilah hati sebagai raja dalam tubuh kita. Untuk itu, dalam momentum tahun baru Hijriah kali ini, mari sama-sama belajar menguatkan mental. Sudah cukup negeri ini dipenuhi dengan mereka yang sekarat mentalnya.

Kata nenek moyang masyarakat Jawa, “Ati suci marganing rahayu”. Hati yang suci menjadi jalan menuju keselamatan jiwa dan raga. Semoga kita senantiasa berusaha menuju arah ini. Amien..


Like it? Share with your friends!

0

What's Your Reaction?

Keren Keren
0
Keren
Terinspirasi Terinspirasi
0
Terinspirasi
Terhibur Terhibur
0
Terhibur
Unik Unik
0
Unik
Suka Suka
0
Suka
Biasa aja Biasa aja
0
Biasa aja
Angry Angry
0
Angry
hate hate
0
hate
Ardani HK

Sedang berkeinginan menjadi penggiat literasi

You may also like

More From: Motivasi

DON'T MISS